Kamis, 04 Juni 2009

Penggunaan Multimedia Sebagai Suatu Upaya Meningkatkan Kemampuan Berbicara Bahasa Inggris Siswa Kelas IX SMP SMP Negeri 1 Kupang Tengah

Oleh

Feriderieks Holeng, S.Pd

SMP Negeri 1 Kupang Tengah

Kabupaten Kupang - NTT

(Dipresentasikan pada Seleksi Guru Berberprestasi Tingkat Nasional, Tanggal 15 Agustus 2008 di Jakarta)

Abstrak

Target pembelajaran ‘speaking’ (berbicara) dalam mata pelajaran bahasa Inggris yang ditetapkan dalam Standar Isi Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, khususnya pada tingkat SMP adalah agar peserta didik memiliki kompetensi minimal yakni: mampu mengungkapkan makna dalam percakapan transaksional dan interpersonal serta mampu mengungkapkan makna dalam teks lisan fungsional dan monolog pendek sederhana berbentuk descriptive, procedure, recount, narrative dan report, dengan menggunakan ragam bahasa lisan secara akurat, lancar dan berterima untuk berinteraksi dalam konteks kehidupan sehari-hari. Namun kenyataannya jauh dari harapan, khususnya padasiswa kelas IX SMP Negeri 1 Kupang Tengah, dimana walaupun telah menyelesaikan pendidikannya, sebagian besar siswa belum mampu berbicara bahasa Inggris. Berdasarkan pengamatan penulis, salah satu penyebabnya adalah media pembelajaran ‘speaking’ yang digunakan guru kurang memotivasi siswa untuk berbicara bahasa Inggris.

Untuk mengatasi permasalahan ini, penulis mencoba mengambil suatu langkah pemecahan yang nyata yakni melalui ‘ Classroom Action Research’ , dengan berfokus pada: “Penggunaan multimedia dalam pembelajaran ‘speaking’. Multimedia yang digunakan adalah: gambar, slide, video clip dan film yang diangkat dari lingkungan sekitar siswa, dalam bentuk software yang diinstal ke dalam komputer atau disimpan dalam Compac Disk dan kemudian ditayangkan menggunakan LCD projector atau CD player dan pesawat TV.

Pelaksanaan kegiatan pembelajaran ‘speaking’ menggunakan multimedia, melalui empat tahap, yaitu: tahap persiapan/perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), pengamatan (observing) dan refleksi (reflection).

Kegiatan pembelajaran ‘speaking’ menggunakan multimedia dilaksanakan dengan cara: siswa meyaksikan tayangan gambar, slide, video clip dan film, kemudian mengidentifikasi kosakata yang berkaitan dengan sesuatu yang disaksikannya, dan dilanjutkan dengan mengungkapkan gagasannya baik secara individu maupun berpasangan atau kelompok. Kegiatan diakhiri dengan penilaian unjuk kerja untuk menentukan tingkat pencapaian kompetensi.

Penulis menemukan bahwa, ketika menggunakan multimedia dalam pembelajaran ‘speaking’ semua siswa termotivasi untuk belajar berbicara bahasa Inggris dan hasil yang dicapai adalah hampir semua siswa mencapai Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar pada aspek ‘speaking’, sehingga disimpulkahan bahwa penggunaan multimedia dalam pempelajaran ‘speaking’ dapat memotivasi siswa untuk belajar berbicara bahasa Inggris lebih aktif, kreatif dan menyenangkan, sehingga hasil yang dicapai pun meningkat.

Oleh karena itu disarankan agar semua guru bahasa Inggris dapat menggunakan multimedia dalam pembelajaran ‘speaking’.


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain. Selain itu, pembelajaran bahasa juga membantu peserta didik mampu mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat, dan bahkan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya.

Bahasa Inggris merupakan alat untuk berkomunikasi secara lisan dan tulis. Berkomunikasi adalah memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya. Kemampuan berkomunikasi dalam pengertian yang utuh adalah kemampuan berwacana, yakni kemampuan memahami dan/atau menghasilkan teks lisan dan/atau tulis yang direalisasikan dalam empat keterampilan berbahasa, yaitu mendengarkan (listening), berbicara (speaking), membaca (reading) dan menulis (writing). Keempat keterampilan inilah yang digunakan untuk menanggapi atau menciptakan wacana dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, mata pelajaran Bahasa Inggris diarahkan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut agar lulusan mampu berkomunikasi dan berwacana dalam bahasa Inggris pada tingkat literasi tertentu.(Standar isi Mata Pelajaran Bahasa Inggris)

Tingkat literasi mencakup performative, functional, informational, dan epistemic. Pada tingkat performative, orang mampu membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara dengan simbol-simbol yang digunakan. Pada tingkat functional, orang mampu menggunakan bahasa untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seperti membaca surat kabar, manual atau petunjuk. Pada tingkat informational, orang mampu mengakses pengetahuan dengan kemampuan berbahasa, sedangkan pada tingkat epistemic orang mampu mengungkapkan pengetahuan ke dalam bahasa sasaran (Wells,1987).

Target pembelajaran ‘speaking’ (berbicara) dalam mata pelajaran bahasa Inggris yang ditetapkan dalam Standar Isi Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, khususnya pada tingkat SMP adalah agar peserta didik memiliki kompetensi minimal yakni: mampu mengungkapkan makna dalam percakapan transaksional dan interpersonal serta mampu mengungkapkan makna dalam teks lisan fungsional dan monolog pendek sederhana berbentuk descriptive, procedure, recount, narrative dan report, dengan menggunakan ragam bahasa lisan secara akurat, lancar dan berterima untuk berinteraksi dalam konteks kehidupan sehari-hari. (Permendiknas no. 22 tahun 2006)

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan penulis, kenyataan yang ditemui di lapangan sangat jauh dari target yang diharapkan. Ditemui bahwa walaupun sudah menyelesaikan pendidikan tingkat SMP, sebagian besar siswa belum mampu berkomunikasi secara lisan dan tulis dalam bahasa Inggris. Kenyataan ini terutama ditemui oleh penulis di tempat tugasnya yaitu SMP Negeri 1 Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Hal ini dipandang sebagai masalah pembelajaran yang sangat serius bagi para guru bahasa Inggris untuk dicari pemecahannya .

Adapun solusi yang ditempuh oleh penulis, untuk memecah masalah tersebut melalui suatu upaya nyata untuk membantu siswa dalam meningkatkan kemapuan berbicara, yakni dengan menggunakan multimedia dalam pembelajaran “speaking”

Alasan penulis menggunakan multimedia dalam pembelajaran ‘speaking’ karena penggunaan multimedia dalam pembelajaran merupakan suatu keharusan bagi seorang pendidik dalam menyambut Era Teknologi Informasi dan Komunikasi. Hal ini juga dimaksudkan untuk menyambut Program Pemerintah Republik Indonesia yang sedang digalakkan saat ini yaitu pemanfaatan Information and Comummunication Technology (ICT) pada setiap satuan pendidikan untuk meningkatkan pengetahuan pendidik dan peserta didik serta semua komponen yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan.

Dengan menggunakan multimedia, siswa dapat menyaksikan gambar, slide, vidio Clip, atau film, tentang lingkungan kehidupan siswa, yang ditayangkan lewat LCD, kemudian dibimbing oleh guru untuk mengidentifikasi kosakata yang berkaitan dengan apa yang dilihat / disaksikan. Selajutnya siswa diberikan kesempatan untuk mengekspresikan gagasannya secara lisan dalam menanggapi sesuatu yang disaksikannya dengan menggunakan kosakata yang teridentifikasi.

Penulis berpendapat bahwa penggunaan multimedia adalah suatu langkah ivovatif, kreatif dan efektif dalam memotivasi siswa untuk mengungkapkan gagasannya dalam ragam bahasa lisan karena materi yang ditangkan diangkat dari dunia nyata (kontekstual) yaitu sesuai dengan lingkungan kehidupan para siswa sehingga pembelajaran lebih aktrif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

Berdasarkan keadaan tersebut di atas, penulis memberi judul tulisan ini: “Penggunaan Multimedia Sebagai Suatu Upaya Meningkatkan Kemampuan Berbicara Bahasa Inggris siswa Kelas IX SMP Negeri 1 Kupang Tengah”

B. Identifikasi Masalah

Sesuai pengalaman dan pengamatan penulis, ditemui beberapa faktor penyebab ketidakmampuan siswa dalam berbicara bahasa Inggris, yakni :

- Media pembelajaran ‘speaking’ yang digunakan guru belum memotivasi siswa untuk berbicara bahasa Inggris.

- Latihan percakapan yang dilakukan terpaut pada latihan dalam buku teks, yang tidak sesuai dengan kehidupan sehari-hari siswa, sehingga siswa hanya menghafal tanpa memahami manfaatnya. Hal ini memyebabkan siswa tidak tertarik untuk belajar berbicara bahasa Inggris.

- Materi pembelajaran ‘speaking’ tidak relevan dengan keadaan alam dan lingkungan hidup siswa, sehingga siswa tidak mudah memahaminya.

- Kurangnya latihan penggunaan kosakata yang telah dipelajari dalam pembelajaran ‘speaking’ sehingga siswa mengalami kesulitan dalam berbicara karena kekurangan kosakata.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, yang menjadi pokok permasalahan dalam ini adalah: “Bagaimana upaya meningkatkan kemampuan siswa berbicara bahasa Inggris ?”

D. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah: Memperkenalkan penggunaan multimedia dalam pembelajaran ‘speaking’ kepada guru bahasa Inggris, sehingga dapat divariasikan dengan teknik yang lain yang sudah dimilikinya, agar siswa terstimulasi untuk berbicara bahasa Inggris.

E. Manfaat Penelitian

1. Bagi siswa

- Dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilan siswa dalam berbicara bahasa Inggris.

2. Bagi guru:

- Menambah kreatifitas dan inovatif guru dalam pembelajaran sehingga ia lebih trampil dan profesional dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, khususnya dalam pembelajaran ‘speaking’

3. Bagi sekolah

- Meningkatkan wawasan pembelajaran bahasa Inggris bagi guru mata pelajaran bahasa Inggris.

- Meningkatkan perolehan nilai UAN.


BAB II

KERANGKA KONSEPTUAL

Belajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing pada umumnya bertujuan untuk mampu berkomunikasi. Berkomunikasi adalah memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya. Oleh karena itu pembelajaran bahasa Inggris di kelas harus menciptakan keadaan agar dapat menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi (Widdowson 1978 : 365). Argumen ini didukung oleh Stren (1983 : 210) yang menyatakan bahwa tujuan utama mengajar bahasa Inggris adalah memotivasi siswa untuk menggunakan bahasa tersebut dengan tepat.

Penulis mendukung pendapat di atas karena dalam pengajaran bahasa Inggris salah satu standar kompetensi yang harus dimiliki siswa adalah kompetensi dalam berbicara (speaking). Untuk mencapai kompetensi ini guru perlu menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, inovatif kreatif efektif dan menyenangkan sehingga siswa termotivasi untuk berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu media pembelajaran yang digunakan harus lebih menarik dan memotivasi siswa untuk mengemukakan ide atau gagasannya.

Untuk mencipatakan situasi kelas yang menyenangkan, maka penulis memilih menggunakan multimedia dalam kegiatan pembelajaran ‘speaking’.

Multimedia yang dimaksud adalah penyediaan informasi komputer yang menggunakan suara, grafika, animasi dan teks. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka 2005:762). Informasi yang dimksudkan oleh penulis dalam kegiatan pembelajaran speaking yaitu: gambar, slide, vidio clip dan film dalam bentuk software yang diinstalkan dalam komputer kemudian ditayang menggunakan LCD projector sehingga dapat disaksikan oleh siswa. Khusus untuk vidio klip dan film dapat juga ditayangkan menggunakan CD player dan pesawat televisi yang berukuran minimal 21” atau disesuaikan dengan jumlah siswa.

Setelah menyaksikan tayangan gambar, slide, vidio clip dan film lewat LCD projector dengan seksama, siswa dibimbing untuk melakukan kegiatan-kegiatan , sbb:

- Mengidentifikas kosakata bahasa Inggris yang berkaitan dengan gambar, slide, vidio clip dan film yang disaksikan, kemudian mengekspresikan gagasannya secara lisan dalam bentuk kalimat pernyataan sederhana berdasarkan gambar, slide, vidio clip dan film yang disaksikan dengan menggunakan kosakata yang telah dipelajari.

- Menjawab pertanyaan yang diajukan guru berdasarkan gambar, slide, video clip dan film yang disaksikan, kemudian melakukan tanya jawab dengan temannya berdasarkan gambar, slide, vidio clip dan film yang disaksikan.

- Bersama guru mengidentifikasi hal-hal lain yang belum dibahas dalam tayangan tersebut untuk didiskusikan.

- Pada kegiatan terakhir, guru memberi tugas kepada siswa untuk menyaksikan tayangan gambar, slide, vidio clip dan film di televisi di rumah dalam durasi 15 s.d 20 menit kemudian mengidentifikasi kosakata terkait kemudian menceritakannya pada pertemuan berikut.

Dengan menyaksikan multimedia dan melakukan kegiatan tersebut dalam pembelajaran speaking, dapat menarik minat siswa untuk belajar berbicara bahasa Inggris sehingga kemampuannya meningkat, sehingga dapat tercapai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dituntut dalam Standar Isi (Permendiknas no. 22 tahun 2006).



BAB III

METODE PENELITIAN

  1. Setting Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) tentang penggunaan multimedia dalam pembelajaran ‘speaking’ ini telah dilaksanakan di SMP Negeri 1 Kupang Tengah, pada kelas IXA Semester 2 Tahun Pelajaran 2007/2008. Kegiatan ini berlangsung selama 3 bulan (Januari s.d. Maret 2008).

  1. Subyek Penelitian

Subjek dari penelitian adalah siswa kelas IX A SMP Negeri 1 Kupang Tengah yang berjumlah 26 orang. Alasan pemilihan kelas IXA karena penulis mengajar pada kelas tersebut. Selain itu, berdasarkan hasil belajar dan pengamatan penulis bahwa belum semua siswa kelas IXA memiliki kemampuan berbicara bahasa Inggris sebagaimana yang ditargetkan dalam Standar Isi, serta disesuaikan dengan perkembangan fisik dan psikologis peserta didik dan mempertimbangkan potensi dan daya dukung setiap satuan pendidikan.

  1. Rancangan Penelitian

Rancangan kegiatan Penelitan ini dibagi dalam 2 siklus. Penetapan 2 siklus ini berdasarkan Jenis Teks pada Standar Kompetensi ‘Speaking’ (berbicara) dalam Standar Isi yang harus dikuasai oleh siswa kelas IX semester 2.

Kegiatan Pembelajaran dalam masing-masing siklus melalui 4 tahap yakni : Perencanaan (planning), Pelaksanaan (action), Pengamatan (observing) dan Refleksi (reflecting). (Kemmis and Taggart:1993).

Keempat tahap tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Perencanaan Pembelajaran (planning)

Sebelum melaksanakan pembelajaran ‘speaking’ menggunakan multimedia, seorang pendidik harus melakukan perencanaan / persiapan. Hal-hal yang perlu disiapkan yakni:

a. Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Langkah-langkah kegiatan pada RPP mengacu pada Permendiknas No. 41 Tahun 2007, tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, yakni: Kegiatan Pendahuluan, Kegiatan Inti (Eksplorasi, Elaborasi, dan Konfirmasi).

b. Menyiapkan multimedia yang akan ditayangkan. Pemilihan multimedia harus disesuaikan dengan kompetensi dasar dan indikator pencapaian yang telah dirumuskan dalam RPP. Multimedia dapat diperoleh dengan cara:

- Mengambil gambar di sekitar lingkungan kehidupan siswa dengan menggunakan Handy Camp, Camera Digital atau HP Camera, yang hasilnya bisa diinstal / transfer ke dalam computer / laptop. Pengambilan gambar berupa foto atau video clip yang berasal dari seputar lingkungan kehidupan siswa dengan maksud agar lebih kontekstual dan memudahkan siswa dalam merespon apa yang disaksikan dan mengekspresikannya dengan menggunakan kosakata bahasa Inggris yang selanjutnya dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, agar pembelajaran lebih aktif dan menyenangkan karena siswa mempelajari hal-hal yang disenanginya dan leih dekat dengan kehidupannya.

- Memanfaatkan materi pembelajaran Bahasa Inggris yang ditayangkan pada Televisi Edukasi (TVE), yang telah disiapkan dalam bentuk software oleh Pustekkom Diknas, yang dapat diperoleh pada UPTD TEKKIM Dinas P dan K, atau dapat di download dari edukasi.net.

- Selain itu dapat memanfaatkan video clip atau film yang sesuai dengan usia dan perkembangan peserta didik dan yang mengandung nilai budi pekerti yang baik.

- Menyiapkan computer atau laptop dan LCD projector. Selain itu, dapat juga menyiapkan CD player dan pesawat televisi berukuran minimal 21”, jika materi yang akan ditayangkan dapat menggunakan CD player dan TV. Semua perangakat ini harus tersedia di sekolah dan tentunya didukung oleh daya listrik yang memadai pula.

2) Pelaksanaan Pembelajaran (action)

Setelah semua perlengkapan multimedia disiapkan dengan baik di ruang kelas atau di suatu ruang khusus, dapat dilanjutkan dengan pelaksanaan pembelajaran.

Pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari RPP. Pelaksanaan pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup.

Pelaksanaan ketiga kegiatan tersebut dapat dijelaskan sebagai berukut:

a. Kegiatan Pendahuluan.

Dalam kegiatan pendahuluan, siswa:

- Menyiapkan diri secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran, termasuk menyiapkan alat tulis dan kamus bahasa Inggris.

- Menjawab dengan singkat pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari;

- Mendengar penjelasan guru tentang tujuan pembelajaran, atau kompetensi dasar yang akan dicapai dan cakupan materi yang akan dipelajari.

- Tertib dan tenang ketika menyaksikan / mengamati materi yang ditayangkan.

b. Kegiatan Inti

Pelaksanaan kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan inti meliputi proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. (Lampiran Permendiknas No. 41 tahun 2007:8)

Implementasi ketiga proses tersebut dalam pembelajaran ‘speaking’ menggunakan multimedia, sbb:

1. Eksplorasi:

- Siswa mendengar penjelasan / instruksi guru yang berkaitan dengan materi yang akan ditayangkan.

- Guru menayangkan materi menggunakan LCD projector atau menggunakan CD player dan TV.

- Siswa menyaksikan / mengamati gambar, slide, video clip atau film yang ditayangkan.

- Guru membimbing siswa untuk mengidentifikasi kosakata yang berhubungan dengan gambar, slide, video clip atau film yang ditayangkan, menurut jenis katanya, kemudian mengucapkan kata-kata tersebut dengan menirukan ucapan guru dan mengartikannya.

- Guru membimbing siswa membuat kalimat pernyataan sederhana dengan menggunakan kosakata yang telah dipelajari.

2. Elaborasi:

- Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 4 orang.

- Secara berkelompok, siswa membuat kalimat pernyataan sederhana dengan jumlah sesuai anggota kelompoknya dengan menggunakan kosakata yang telah dipelajari, kemudian menyampaikan secara lisan di depan kelas.

3 Konfirmasi

- Siswa menjawab pertanyaan guru tentang berbagai hal yang berkaitan dengan media yang ditayangkan.

- Guru membimbing siswa membuat tanya – jawab dengan teman sekelompoknya.

- Guru memberikan kesempatan kepada siswa dari beberapa kelompok untuk bertanya –jawab.

c. Kegiatan Penutup

Dalam kegiatan penutup, guru:

1. bersama-sama dengan siswa dan / atau sendiri membuat rangkuman / simpulan pelajaran.

2. melakukan penilaian dan / atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram.

3. memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran.

4. merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/ atau memberi tugas baik tugas individu maupun kelompok, sesuai hasil belajar peserta didik.

5. menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya. (Lampiran Permendiknas No. 41 tahun 2007:9)

Salah satu implementasi dari kegiatan penutup pada pembelajaran ‘speaking’ menggunakan multimedia, yakni guru menugaskan siswa menyaksikan tanyangan gambar, video, video clip, atau film pada acara TV dalam durasi 10 s.d 15 menit, kemudian mengidentifikasi kosakata dan membuat 5 buah kalimat sederhana yang akan di sampaikan secara lisan pada pertemuan berikutnya.

3) Pengamatan (observing)

Pada tahap ini penulis mengamati dan mencatat keberhasilan dan kegagalan atau kelemahan dari pelaksanaan tindakan (action) dalam kegiatan pembelajaran menggunakan instrument yang tersedia.

4) Refleksi (reflecting)

Pada tahap ini penulis merenungkan keberhasilan dan kegagalan atau kelemahan dari tindakan yang telah dilaksanakan serta menentukan tindakan yang lebih baik untuk mengatasi kegagalan atau kekurangan yang dialami pada tindakan sebelumnya.

  1. Jenis dan Metode Pengumpulan Data.

Data yang dikumpulkan penulis dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan pengumpulannya dilakukan dengan cara mencatat aktivitas siswa pada tahap ‘acting’, dengan menggunakan instrument-instrumen yang telah disiapkan, yang berisi kriteria yang dinilai. (Instrumen dan data terlampir). Selain pengambilan data dilakukan dengan cara pemberian tes unjuk kerja (performance).



BAB IV

PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

Kegiatan pembelajaran ‘speaking’ menggunakan multimedia telah diterapkan oleh penulis pada semester 2 tahun pelajaran 2007/2008, selama 3 bulan (Januari s.d. Maret 2008) di Kelas IX A SMP Negeri 1 Kupang Tengah, yang berjumlah 26 orang siswa. Penggunaan multimedia ini diterapkan dalam pembelajaran ‘speaking’ untuk mencapai 4 Kompetensi Dasar yang terbagi menjadi 2 siklus (setiap siklus terdiri 2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP))

Selama kegiatan pembelajaran, penulis telah menggunakan instrumen-instrumen yang telah disiapkan untuk mengamati/mengobservasi seluruh kegiatan pembelajaran dengan baik.

Hal-hal positif maupun kelemahan atau kekurangan yang ditemui telah dicatat dalam lembaran observasi. Contoh lembaran observasi telampir.

Disamping observasi, penulis juga telah melaksanakan tes untuk mengukur ketercapaian kompetensi dasar pada setiap siklus. Tes telah dilaksanakan pada akhir setiap siklus.

Hasil yang dicapai dalam penelitian ini secara lengkap diuraikan sebagai berikut:

· Siklus 1 (Teks Transactional dan Interpersonal)

Pelaksanaan tindakan pada siklus 1 berdasarkan RPP yang telah dibuat. Setelah langkah-langkah pembelajaran pada siklus 1 dilaksanakan dan diamati oleh penulis dan diperoleh hasil seperti tertera pada table berikut:

Tabel 1

Hasil Pengamatan Siklus 1

No

Aspek Yang Diamati

Jumlah

siswa

%

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

Merespon ‘lead in questions’ dari guru

Memperhatikan penjelasan guru tentang kegiatan yang akan dilakukan.

Menunjukkan reaksi senang / tertarik pada gambar yang ditayangkan

Aktif mengidentifikasi kosakata bahasa Inggris berdasarkan gambar / video clip yang disaksikan.

Mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi kosakata

Berusaha mengomentari gambar / video clip yang disaksikan dengan kalimat sederhana menggunakan kosakata yang teridentifikasi.

Mengalami kesulitan dalam mengomentari gambar / video clip yang disaksikan

Meminta batuan teman untuk melaksanakan tugas yang diberikan.

Menjawab pertanyaan guru

Bertanya – jawab dengan teman di kelompok

10

20

22

21

10

18

15

10

15

20

38.46

76.92

84.61

80,76

38.46

69.23

57.69

38.46

57.69

76.92

Hal-hal atau kejadian penting dari siswa yang diamati dan dicatat oleh penulis, antara lain:

  1. Pada saat guru mengajukan pertanyaan awal untuk menuntun siswa kepada materi yang akan dibahas, hanya 10 orang siswa (38.46 %) siswa memberi respon, bahkan ada siswa yang ngobrol dengan temannya tanpa perhatian kepada guru. Hal ini disebabkan siswa belum mengetahui materi yang akan dipelajari dan tidak ada sesuatu yang menarik perhatian mereka.
  2. Siswa mulai memperhatikan ketika disampaikan bahwa akan ditunjukkan sesuatu yang menarik.
  3. Siswa sangat senang/ tertarik (84.61 %), ketika ditayangkan gambar / video clip sehingga nampak antusiasnya untuk merespon.
  4. Sebagian besar siswa (80.76 %) berusaha menemukan kosakata yang terdapat pada gambar karena mereka membawa kamus bahasa Inggris.
  5. Terdapat 10 orang siswa (38.46 %) yang masih lamban / sulit melaksanakan tugas karena tidak membawa kamus bahasa Inggris sehingga mereka harus berpindah tempat untuk meminjam kamus.
  6. 15 orang siswa (57.69 %) enggan mengemukakan gagasannya karena kesulitan kosakata.
  7. Terdapat 10 orang siswa (38.46 %) mengalami kesulitan namum mereka aktif dan berusaha meminta batuan teman untuk melaksanakan tugas yang diberikan.
  8. 20 orang siswa (76.92 %) dapat melakukan tanya – jawab dalam kelompoknya.

Berdasarkan hasil pengamatan dan refleksi pelaksanaan pembelajaran pada Siklus 1, ditemui hal-hal yang perlu di perbaiki pada siklus 2, yakni:

  1. Setiap siswa diharuskan membawa kamus bahasa Inggris.
  2. Untuk efisien waktu, guru dapat juga menyiapkan daftar kosakata bahasa Inggris yang sesuai dengan gambar / video clip yang ditayangkan dan siswa dengan cepat menjodohkan bagian-bagian gambar / video clip dengan kosakata yang tersedia.
  3. Agar lebih menantang, kegiatan mengidentifikasi kosakata dilakukan dalam bentuk kompetisi / perlombaan antar kelompok dan mendapat bonus nilai.
  4. Kegiatan berkomunikasi ditingkatkan lagi menjadi kegiatan berdialog atau percakapan di depan kelas berdasarkan materi tayangan. Hal ini dimaksudkan agar siswa memiliki keberanian dan terbiasa untuk berbicara bahasa Inggris di depan audiens.

· Siklus 2 (Teks Functional)

Perencanaan dan pelaksanaan tindakan pada siklus 2 berdasarkan hasil pengamatan dan refleksi siklus 1. Setelah langkah-langkah pembelajaran pada siklus 2 dilaksanakan dan diamati, diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 2

Hasil Pengamatan Siklus 2

No

Aspek Yang Diamati

Jumlah

siswa

%

1

2


3

4


5

6


7

8


9

10

Merespon ‘lead in questions’ dari guru

Memperhatikan penjelasan guru tentang kegiatan yang akan dilakukan.

Menunjukkan reaksi senang / tertarik pada gambar yang ditayangkan

Aktif mengidentifikasi kosakata bahasa Inggris berdasarkan gambar / video clip yang disaksikan.

Mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi kosakata

Berusaha mengomentari gambar / video clip yang disaksikan dengan kalimat sederhana menggunakan kosakata yang teridentifikasi.

Mengalami kesulitan dalam mengomentari gambar / video clip yang disaksikan

Meminta batuan teman untuk melaksanakan tugas yang diberikan.

Menjawab pertanyaan guru

Bertanya – jawab dengan teman di depan kelas

23

24

26

26

6

22

6

6

17

24

88.46

92.30

100

100

23.07

22.00

23.07

23.07

77.27

92.30

Hal-hal atau kejadian penting dari siswa yang diamati dan dicatat oleh penulis, antara lain:

  1. Pada saat guru mengajukan pertanyaan awal untuk menuntun siswa kepada materi yang akan dibahas, jumlah siswa yang merespon meningkat yaitu 23 orang siswa (88.46 %). Hal ini disebabkan pertanyaan yang diajukan guru tentang materi yang dipelajari pada pertemuan yang lalu. Terdapat 3 orang siswa tidak merespon karena kurang memahami pertanyaan.
  2. Seluruh siswa memperhatikan dengan baik ketika disampaikan bahwa akan diadakan kompetisi.
  3. Semua siswa berusaha menemukan kosakata yang terdapat pada gambar karena telah memiliki kamus bahasa Inggris. Selain itu mereka berkompetisi untuk mendapat bonus berupa tambahan nilai.
  4. Jumlah siswa yang berkesulitan dalam melaksanakan tugas berkurang (hanya 6 orang) karena tidak membawa kamus bahasa Inggris sehingga mereka harus berpindah tempat untuk meminjam kamus.
  5. Minat, antusias dan motivasi siswa untuk berbicara bahasa Inggris dalam merespon multimedia yang disaksikan sudah semakin meningkat. Hal ini dibuktikan dengan jumlah siswa yang tampil untuk berbicara di depan kelas bertambah menjadi 24 orang (92.30 %) dengan kemampuan berbahasa Inggris yang meningkat pula.

Selain pengamatan, pada akhir setiap siklus, penulis melakukan tes performance (unjuk kerja). Dalam tes ini, siswa diberikan kesempatan baik secara individu maupun berpasangan / kelompok untuk mengekspresikan gagasannya dalam merespon gambar atau video clip yang ditayangkan, sedangkan guru mengamati dan menilai unjuk kerja siswa dengan menggunakan rubrik penilaian yang telah disiapkan. Aspek yang dinilai dalam rubrik penilaian yaitu: kosakata (pemilihan kata), lafal, ungkapan dan tata bahasa. (Rubrik penilaian terlampir). Hasil tes Siklus 1 dan 2 nampak pada tabel berikut:

Tabel 3

Nilai Rata-Rata Tes Siklus 1 dan 2

No

Siklus

Jumlah peserta tes

Nilai Rata-Rata

1

2

1

2

26

26

76.33

80.02

Tabel di atas menunjukkan bahwa rata-rata jumlah dan prosentase kemampuan berbicara bahasa Inggris siswa pada pelaksanaan tindakan siklus 2 mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan siklus 1.

Hasil tes siklus 2 menunjukkan bahwa kemampuan rata-rata siswa meningkat 3,69 % dibandingkan dengan siklus 1, walaupun secara individu masih ada beberapa siswa perlu dibimbing secara khusus.

Pada akhir setiap kegiatan pembelajaran ketika penulis meminta tanggapan dari siswa, ditemui tanggapan atau usul/saran dari seluruh siswa yang hadir agar penggunaan multimedia ini terus diimplementasikan dalam setiap kegiatan pembelajaran bahasa Inggris karena materinya sangat menarik dan meyenangkan.

BAB IV

PENUTUP

A. Simpulan

Masalah pembelajaran yang dihadapi di kelas sering membuat guru berupaya mencari solusi pemecahannya. Hal ini seperti yang dilakukan oleh penulis, yaitu dengan mengemukakan suatu teknik pembelajaran yaitu: “Penggunaan multimedia dalam pembelajaran ‘speaking’”. Penulis mencoba menghadirkan teknik ini untuk membantu guru bahasa Inggris mengatasi rendahnya kemampuan siswa dalam berbahasa Inggris.

Pada karya ilmiah ini penulis telah mengemukakan sejumlah kegiatan pembelajaran ‘speaking’ menggunakan multimedia, yang dapat memotivasi siswa untuk aktif dan kreatif dalam mengembangkan gagasannya untuk mengungkapkan makna dari sesuatu yang dilihat / disaksikannya.

Setelah melakukan kegiatan pembelajaran ‘speaking’ dengan menggunakan multimedia diharapkan dapat membawa dampak positif bagi siswa terutama dapa meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Inggris sehingga dapat tercapai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi KTSP.

B. Saran

1. Dalam kegiatan pembelajaran ‘speaking’ para guru bahasa Inggris diharapkan dapat memanfaatkan multimedia untuk memotivasi siswa untuk lebih aktif dan kreatif, sehingga pembelajaran ‘speaking tidak membosankan bagi para siswa. Selain itu pemanfaatan multimedia dijadikan sebagai suatu pebiasaan sehingga baik guru maupun peserta didik tidak dianggap sebagai generasi gagap teknologi.

2. Perlu adanya kerjasama antara guru-guru mata pelajaran bahasa Inggris dalam menanggulangi masalah pembelajaran bahasa Inggris yang dialami, karena dengan adanya kerjasama maka permasalahan yang dihadapi pasti dapat teratasi dengan demikian maka hasil prestasi belajar siswa pun akan dapat mencapai target sesuai tuntutan kurikulum.

3. Pihak sekolah perlu menyediakan fasilitas yang mendukung kegiatan pembelajaran untuk memudahkan guru dalam menerapkan teknik-teknik baru yang dirancang sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi masa kini.

DAFTAR PUSTAKA

Kemmis and Taggart, (1993). Action research: A short Modern History. Australia: Deakin University.

Nunung Ruis, M.Pd. (2003). Media For Teaching English. PPG Bahasa, Unpublish, Jakarta

Permendiknas No. 22. (2006). Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Depdiknas.

Permendiknas No. 41. (2007). Standar Proses Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Depdiknas.

Pusat Bahasa Depdiknas. (2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Widdowson, (1978). Handbook in Reseach and Education. San Diego California: Edit Publisher.

Minggu, 31 Mei 2009

PROFILKU

Nama Lengkap : Feriderieks Holeng, S.Pd
TTL : Batuinan, 5 Pebruari 1969
Alamat : Jln. Timor Raya Km. 17 Noelbaki Kupang - NTT 85361
Pekerjaan : PNS
Status : Menikah
Hobby : Membaca n Browsing Internet
HP : 081339405680
E-mail : fholeng@gmail.com